Skip to main content
Petrus Riski/Project Arek
Reportase
“Tragedi Kayu”: Wajah Keserakahan
“Tolooong... Banjiiirrr... Ayaaahhh... Ibuuu... Tolooong,” teriakan yang menyayat hati namun kembali tenggelam oleh gemuruh banjir bandang yang menyapu semuanya, merobohkan bangunan, menghanyutkan ternak dan kendaraan, membawa apa saja yang tak berdaya.

Musik mengalun perlahan. Sesaat kemudian iramanya melengking dengan ritme yang terus bertambah cepat. Alunan musik disusul suara yang keluar dari mulut orang-orang berpakaian serba hitam dan bertopi kerucut, yang melangkah perlahan.

“Hiaaa... Hiooo... Iyaaa... Iyooo...” Hening.

Namun tak lama, hening pecah tertimpa deru suara mesin, yang mengiringi masuknya 7 manusia berhidung panjang dengan pakaian seperti jas hujan. Deru mesin itu ternyata suara chainsaw, gergaji mesin yang dipegang tangan saat mengoperasikannya.

Raungan mesin chainsaw bergerak ke segala arah, memotong batang demi batang pohon yang roboh bergantian. Para manusia hidung panjang terus bergerak sampai tak satu pun pohon berdiri tegak. Selesai di satu tempat, mereka pindah ke tempat lain dan meratakan bukit serta gunung yang semula hutan. Tak ada satu batang pohon pun yang dibiarkan tegak berdiri.

Selesai menggunduli hutan, manusia hidung panjang melangkah pergi dengan gagah dan bangga, seakan baru pulang memenangkan sebuah kejuaraan. Tak berselang lama, gulungan air bercampur lumpur datang bergelombang menyapu lembah, lereng, sawah, dan permukiman warga yang ada di bawahnya. Banyak yang tidak siap. Teriakan dan tangisan bersahutan memecah sunyi.

“Tolooong... Banjiiirrr... Ayaaahhh... Ibuuu... Tolooong,” teriakan yang menyayat hati namun kembali tenggelam oleh gulungan banjir bandang yang menyapu semuanya, merobohkan bangunan, menghanyutkan ternak dan kendaraan, membawa apa saja yang tak berdaya.

Para pemeran "Tragedi Kayu" didominasi anak-anak. Mereka memahami peran sekaligus kenyataan bencana yang terjadi di Sumatra. (Foto: dok. Bengkel Muda Surabaya)

Setelah banjir bandang berhenti, semua kembali sunyi, sepi, seakan kota mati. Tidak ada aktivitas kehidupan yang terdengar. Tak lama kemudian, suara kepedihan dan derita mulai menyembul di antara lumpur dan reruntuhan. Ada yang mencari sanak keluarganya karena terpisah saat banjir bandang terjadi. Ada yang menangisi rumah, sekolah, tempat usaha, hingga rumah ibadah, yang tak lagi nampak wujudnya.

“Duuuhhh... Gustiii... Tolooong...” hanya itu yang bisa diserukan para korban yang masih hidup. Manusia-manusia, menangisi derita yang diciptakan manusia-manusia lainnya. Alam hanya menghadirkan bukti bahwa keserakahan manusialah yang membuat manusia lain menderita. Ini bukan bencana alam. Ini bencana keserakahan.

“Tragedi kayu, main kayu, rakus pelaku, hutan dikacau, hujan melaju, air bah menyapu, kampung dan kotaku diserbu, para jelata terpaku, tertipu janjimu, janjimu huuu... Huuu,” keluh Nazwa, rakyat yang menjadi korban.

Meski bencana telah nyata akibatnya bagi rakyat jelata, para manusia hidung panjang masih saja berani tampil di depan, seakan tidak peduli apa yang dirasakan rakyat yang menjadi korban. Tuli dan buta akan tanda dan bukti nyata yang diberikan alam yang terluka. Kata-kata bohong, palsu, manis di mulut, kosong di tindakan, itulah gambaran para pejabat, politisi, para pengambil kebijakan, yang merasa paling mengerti kesulitan dan derita warga yang kehilangan kehidupannya.

“Lapaaarrr... Dingiiinnn... Lapaaarrr... Dingiiinnn...” ratapan yang terus terdengar sebagai litani yang didaraskan korban. Suara-suara itu kemudian melemah, dan kembali tergantikan dengan deru gergaji mesin, yang seakan tidak peduli dengan derita warga yang masih berjuang untuk hidup, maupun ratusan korban yang mati ataupun hilang belum ditemukan.

Adegan demi adegan itu dilakoni apik oleh anak-anak yang tergabung dalam Teater Anak Bengkel Muda Surabaya (BMS), yang disutradarai Heroe Budiarto. Pagelaran teater berjudul ‘Tragedi Kayu’ ini ditampilkan pada momen tutup tahun 2025, sebagai pengingat bagaimana praktik keserakahan mengubah sukacita menjadi bencana tak terperih.

Pementasan di Gedung Balai Budaya, Kompleks Balai Pemuda Surabaya, menjadi ajakan bagi manusia dewasa yang serta merta memperlakukan alam. Lakon yang mengingatkan adalah 22 anak dan remaja, didukung oleh 2 penyanyi dan seorang pemusik, pewaris masa depan negeri. Karya ini menjadi pengingat semua orang untuk memahami dampak dari kebohongan, keserakahan, dan eksploitasi alam berlebihan, yang berujung pada rusaknya keseimbangan lingkungan.

“Hutan gundul, sungai keruh, hingga bencana banjir, longsor, dan kekeringan melanda hampir seluruh negeri, dan yang paling parah di Sumatra,” kata Heroe Budiarto.

Karya ini, menurut Heroe, terinspirasi dari puisi Arthur Jhon Horoni, senior Bengkel Muda Surabaya yang tinggal di Aceh, yang menjadi salah satu daerah yang mengalami dampak paling parah bencana ekologis akibat penggundulan hutan dan aktivitas pertambangan tak terkendali, yang dilakukan para pemilik modal dan penguasa.

Anak-anak teater dari Bengkel Muda Surabaya saat berlatih sebelum pementasan "Tragedi Kayu". (Foto: dok. Bengkel Muda Surabaya)

Melalui narasi "Luka Alam, Bumi Meronta" Tragedi Kayu menegaskan, kerusakan lingkungan bukan sekadar peristiwa alam, melainkan akibat langsung dari perilaku dan pilihan keputusan manusia. Ironisnya, beban akibat kerusakan lingkungan dan bencana itu harus dirasakan anak-anak dan generasi yang akan datang, tanpa rasa sesal dari para perusak lingkungan itu.

Salah seorang anak yang turut memerankan tetaer ‘Tragedi Kayu’, Nazwa menuturkan, sebagai anak Indonesia jangan pernah merasa takut untuk menyuarakan pendapat, dalam kondisi atau keadaan apapun di Indonesia. Banjir bandang akibat penggundulan hutan di Sumatera, menurut Nazwa, terjadi akibat ulah orang yang tidak bertanggung jawab, dan hanya peduli dengan kepentingannya sendiri.

“Karena banyaknya pohon yang mereka tebang, menyebabkan hutan sebagai sumber perlindungan dan pertahanan semakin berkurang, bahkan menghilang,” ujar Nazwa.

Ia berpesan agar pemerintah lebih memperhatikan dan mempedulikan keberlangsungan lingkungan hidup, yang menjadi tempat hidup generasi di masa depan. Sedangkan untuk masyarakat yang menjadi korban, Nazwa berharap bencana segera berakhir dan dapat tertangani dengan baik.

“Semoga masyarakat yang menjadi korban diberi kekuatan atas apa yang terjadi, dan semoga secepatnya masalah ini dapat diselesaikan secara bijak dan adil,” imbuhnya.

Sementara itu, Dela, salah satu penyanyi dalam teater ‘Tragedi Kayu’ berpendapat, alam dan manusia memiliki keterhubungan. Bila alam dirusak, maka alam akan menjadi tidak seimbang sehingga terjadilah bencana.

“Sebaiknya kita turut andil dalam menjaga lingkungan. Dimulai dari langkah kecil, seperti jangan membuang sampah sembarangan. Kita juga dapat menyampaikan kritik yang membangun melalui karya,” ungkap Dela.

Banyaknya bencana yang terjadi di sejumlah wilayah di Indonesia, Dela menyebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya praktik penebangan pohon di hutan yang serampangan. Penebangan liar hutan-hutan di Indonesia, menurut Dela, dilakukan dengan cara yang licin, karena menyisakan bagian muka atau depan dari hutan, tapi menghabiskan bagian dalam atau tengah atau yang terdalam dari hutan.

“Pesan saya, supaya pemerintah lebih peka terhadap kerusakan lingkungan yang saat ini terjadi, jangan hanya mengaku telah menjaga lingkungan dengan baik, tapi kenyataannya berbeda. Kalau lingkungan sudah rusak, kehidupan masyarakat juga yang menjadi korban,” tandasnya.

Peristiwa banjir di 3 provinsi di Sumatra, yaitu Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, menjadi latar belakang lahirnya ide cerita dalam teater “Tragedi Kayu”. Banjir di 3 provinsi ini terjadi pada 26-30 November 2025, BNPB mencatat terdapat 1.157 orang meninggal dunia, 165 orang masih hilang, lebih dari 381.000 orang mengungsi dari 52 kabupaten dan kota yang terdampak. 

Sumatra Utara menjadi satu dari tiga provinsi di Pulau Sumatra yang diterjang banjir besar. Ribuan warga kehilangan rumah dan ruang hidupnya. (Foto: Dominicus Rico, Relawan SRK)

Bencana ini juga menyebabkan lebih dari 178.000 rumah rusak. Selain itu, 81 ruas jalan rusak dan terputus, 34 jembatan tidak dapat dilalui, merusak 3.188 fasilitas pendidikan, 803 rumah ibadah, dan 215 fasilitas kesehatan.

Berbagai reaksi muncul dari masyarakat hingga pejabat, yang prihatin atas terjadinya bencana yang menimpa sejumlah daerah di tanah air, khususnya di Sumatra. Ada yang mengutuk karena bencana terjadi akibat kerusakan lingkungan dan hilangnya hutan yang dibabat tanpa memperhatikan daya dukung lingkungan. Namun, ada juga yang menganggap cuaca esktrim sebagai biangnya.

Para pejabat mulai kepala daerah, menteri dan presiden turut bersuara. Janji melakukan penanganan dengan cepat dan tepat juga diucapkan para petinggi negeri ini. Namun, faktanya masyarakat di daerah terisolir harus berjalan kaki belasan meter untuk mendapatkan bahan makanan. Banyak di antara warga kebingungan karena ruang hidup mereka tertimbun ribuan kubik gelondongan kayu.

Bencana ekologis di Sumatra disebabkan kerusakan alam akibat ekspansi perkebunan sawit dan pertambangan. Pemilik perusahaan, semuanya tinggal di rumah mewah jauh dari lokasi bencana. Sedangkan warga, langsung terdampak dan kehilangan segalanya. (Foto: Dominicus Rico, Relawan SRK)

Janji secepatnya membuka akses ke daerah terdampak juga tidak kunjung dimulai, padahal ada banyak negara yang menawarkan bantuan dan keterlibatan dalam pencarian korban, tapi pemerintah merasa masih mampu menangangi bencana tanpa bantuan negara tetangga. Belakangan, Presiden Prabowo merevisi sendiri pernyataannya dengan ucapan, bodoh kalau tolak bantuan.

Status bencana nasional yang menjadi pintu masuk bantuan dari komunitas internasional, tak kunjung ditetapkan. Lewat satu bulan bencana akibat banjir dan longsor di Sumatra, rakyat yang terdampak sepertinya masih terus berjuang untuk mengupayakan kehidupannya sendiri.

Warga bantu warga dengan penggalangan dana terus menggema. Sedangkan bantuan yang diberikan pemerintah malah menuai kritik karena dijadikan ajang pencitraan personal semata. Teater anak “Tragedi Kayu”, menjadi kritik sekaligus pengingat, bahwa di saat bencana masih terus terjadi akibat penggundulan hutan, di daerah lain seperti Papua, hutan masih terus dihancurkan hingga saat ini. Motifnya sama, keserakahan.